Jam tiga pagi tadi, aku berdoa. Sebuah harapan sederhana namun dalam aku ingin sekali hujan turun hari ini. Kubuka jendela, menatap langit yang gelap dan sunyi, mencoba mencari tanda-tanda yang mungkin tersembunyi di sana. Lalu kubuka ponsel, memeriksa ramalan cuaca, dan layar itu hanya menunjukkan cerah, tanpa secuil pun tanda mendung. Namun keinginan itu tetap bersemayam, tumbuh diam-diam di dada, seolah menolak kalah pada angka-angka prakiraan.
Dan benar saja, menjelang subuh, hujan itu turun.
Aku tidak tahu apakah itu jawaban atas doaku, atau sekadar takdir yang memang sudah tertulis sejak semula, jauh sebelum aku sempat memohon. Barangkali keduanya bukan dua hal yang terpisah. Barangkali doa dan takdir berjalan beriringan, seperti dua tangan yang bertemu dalam satu pelukan yang sama.
✦ ✦ ✦
Yang aku yakini hanyalah satu: Tuhan Maha Baik. Entah hujan itu turun karena doaku didengar, atau karena memang sudah menjadi ketetapan-Nya, keduanya tetap berbicara tentang kasih yang sama — kasih yang tak pernah benar-benar jauh, bahkan ketika cuaca berkata sebaliknya.
— sebuah doa yang dijawab, entah oleh langit atau oleh takdir