Selamat dari Maut
Sore itu, sepulang kerja, aku melintasi jalan yang sama seperti biasa jalan yang setiap hari kulalui saat berangkat maupun pulang. Aku menunggangi Fazzio-ku sambil membiarkan pikiran melayang ke mana-mana, sesekali melamun tanpa sadar, seperti sore-sore lain yang terasa biasa saja.
Semua berjalan tenang, sampai tiba-tiba sebuah motor dari arah berlawanan melaju kencang dan menghantam motor boncengan tepat di depanku. Dalam hitungan detik yang terasa begitu panjang, motor itu hanya menyerempet kakiku tanpa membuatku jatuh, tanpa meninggalkan luka atau lecet sedikit pun.
Aku terdiam. Shok. Tak percaya bagaimana aku bisa melewati kejadian itu tepat di tengah-tengahnya, namun tetap utuh, tetap berdiri. Di titik itu aku sadar, ada jarak antara hidup dan sesuatu yang lain yang begitu tipis, dan aku baru saja melewatinya tanpa pernah benar-benar memilih untuk selamat.
Dari situ aku belajar bahwa apa yang terjadi dan apa yang tidak terjadi sudah menjadi ketetapan-Nya. Bukan kebetulan, bukan keberuntungan semata, melainkan sesuatu yang sudah digariskan jauh sebelum aku bahkan menyalakan motor sore itu. Dan mungkin, itulah cara semesta mengingatkanku untuk berhenti sejenak, bersyukur, dan menyadari bahwa selamat pun adalah anugerah yang tak pernah benar-benar kita rencanakan sendiri.