Seribu Tanya
Ada malam yang datang tanpa mengetuk, duduk saja di tepi dada, membawa serta seribu tanya yang tak pernah kutemukan jawabnya.
Gelisah itu seperti angin yang tersesat di ruang sempit — berputar, mencari celah keluar, tapi setiap sudut terkunci oleh pikiran yang enggan diam.
Jantung berdetak seperti jam yang rusak, kadang cepat, kadang tercekat, dan aku, hanya bisa duduk menunggu badai ini reda dengan sendirinya.
Kecemasan bukan musuh yang berwujud, ia hanya bayang dari harap yang terlalu banyak dipeluk, dari masa depan yang belum tiba namun sudah kupikul di pundak yang letih.
Aku belajar untuk bernapas pelan, menghitung detik demi detik, seolah waktu bisa kubujuk untuk berjalan lebih ramah.
Malam ini mungkin belum tenang, tapi aku memilih untuk tetap ada, menemani diriku sendiri sampai fajar mau menepati janjinya.