Cinta dan Kegilaannya
menurut Jalaluddin Rumi — dan malam ini, menurutku juga
Akal sehat kadang berhenti. Kita tahu ini gila. Tapi hati sudah jalan duluan.
Kegilaan yang Disebut Cinta
Rumi punya pandangan aneh soal cinta. Cinta bukan sekadar hangat di dada. Cinta itu api. Ia membakar habis hitung-hitungan untung rugi.
Orang jatuh cinta memang terlihat gila. Mereka berhenti menghitung. Berhenti menjaga jarak aman. Mereka menyerah pada sesuatu yang lebih besar dari akal.
Tapi bagi Rumi, itu bukan kehilangan akal. Justru sebaliknya. Itu kesadaran paling jujur. Lepas kendali, baru bisa benar-benar hidup.
Itu sebabnya darwis berputar dalam tariannya. Mereka melebur diri. Ego yang menjaga jarak, larut. Yang tersisa hanya cinta.
Ketika Aku Mulai Memahaminya
Dulu kukira ini cuma kiasan. Enak dibaca, jauh dari nyata. Sampai malam-malam ini datang.
Saat menyeberang jalan. Saat lampu warung menyala satu-satu. Wajahnya muncul begitu saja. Aku tersenyum sendiri.
Aku mengulang percakapan kecil. Menimbang kalimat yang belum tentu kukirim. Anehnya, aku tidak keberatan.
Mungkin ini maksud Rumi. Kegilaan ini bukan untuk merusak. Ia bukti hati masih bergerak sendiri.
Yang melegakan, aku tidak sendirian. Semua orang yang jatuh cinta pernah merasa tidak waras — dan tetap memilih merasakannya.
Kegilaan yang Tak Perlu Disembuhkan
Kalau kamu juga merasakannya, memikirkan seseorang lebih sering dari biasanya, mungkin kamu tak perlu buru-buru sembuh.
Rumi akan bilang, biarkan api itu menyala. Bukan untuk membakarmu habis. Tapi untuk membakar rasa takutmu.
Kegilaan karena cinta bukti kita masih hidup. Seperti kata orang kampung, itu bukan penyakit. Itu tanda hati bekerja dengan baik.
Dan malam ini, aku memilih untuk tidak melawannya.