Lihatlah aliran air yang meliuk turun dari ufuk yang memutih itu. Bagi mata yang terhijab, ia hanyalah hujan yang jatuh membasahi genting dan dedaunan. Namun bagi mata hati yang terjaga, ia adalah tarian rindu pesan cinta yang diturunkan dari Langit kepada Bumi yang dahaga.
Setiap tetes yang tercurah itu menyimpan ingatan akan samudra. Ia pernah berada dalam keluasan yang tak bertepi, menyatu tanpa nama, tanpa rupa, dalam pelukan Sang Kekasih. Lalu, demi sebuah Kehendak, ia diangkat menjadi awan, dipisahkan dari Asalnya. Langit kelabu di latar belakang bukanlah tanda kesedihan alam, melainkan tirai (hijab) keagungan yang menyembunyikan rahasia perjumpaan.
Perhatikan bagaimana aliran air itu tidak turun dalam garis lurus yang kaku. Ia bergetar, meliuk, dan terpecah di udara. Begitulah perjalanan jiwa manusia di dunia yang fana ini. Di sekelilingnya, bayangan dedaunan dan atap rumah tampak kabur dan tidak nyata sebuah pengingat bahwa dunia dan segala isinya hanyalah bayang-bayang ilusi yang numpang lewat. Satu-satunya yang hakiki adalah gerak turunnya air itu sebuah kepasrahan total pada takdir (gravitasi cinta) yang menariknya kembali kepada bumi.
Dalam jatuhnya, air itu membisikkan zikir tanpa suara: "Dari Dia aku berasal, dan kepada-Nya aku menempuh jalan pulang." Ia tidak takut hancur ketika membentur tanah. Sebab ia tahu, di titik persentuhan itulah wujud individunya yang semu (fana) akan sirna, dan ia akan kembali melebur menjadi tiada, meresap ke dalam akar-akar pohon, memberi kehidupan, sebelum akhirnya di ujung waktu pulang kembali ke Samudra Keabadian.
Hujan hari ini bukanlah air, Sahabatku. Ia adalah air mata cinta Sang Pencipta yang membasuh debu-debu kelalaian di hati kita.
Apakah rintik hujan ini juga membangkitkan kenangan atau kerinduan tertentu di dalam relung hatimu?