Fajar menyapa dengan dekapan udara yang begitu sejuk, mengantarkan langkahku menuju sebuah pertemuan jiwa. di sana ada Mella, sang puan berparas manis yang menantiku. sebelum kaki ini memijak sanggurdi, kubiarkan jemariku menari di surainya-sebuah ritual bonding, di mana dua detak jantung mulai mencari irama yang sama.
kami memulai pagi dengan langkah trot yang berirama. Namun Mella tampaknya sedang ingin berdansa dengan alam dan menari di atas kubangan. di antara putaran demi putaran, ia sengaja menjamah kubangan air, memercikkan beningnya ke udara dengan sepakkan kaki yang jenaka.
Dalam tarian itu, aku memetik sebuah pelajaran berharga "seekor kuda adalah cermin bagi penunggangnya".
Ia peka terhadap getaran rasa yang mengalir dari jemari hingga ke pelana. karena rasa percayaku yang meluap pada teknik trot pagi ini, suasana latihan menjadi begitu santai. Mungkin sedikit terlalu jenaka hingga batas antara latihan dan permainan menjadi kabur.
Di sisi lain lapangan, kulihat Berlian, sang betina yang gagah perkasa, sedang bergelut dengan egonya. ia kehilangan binar kepercayaanya pada sang penunggang. Mungkin karena kakinya yang terus membentur mistar saat sesi jumping, atau mungkin karena ia terlalu "bangsawan" untuk sekedar menyentuh beceknya tanah.
Seketika, jiwanya membeku ia enggan melangkah, apalagi berlari. Di titik itulah sang penunggang harus menanggalkan ambisinya dan menyusun kembali bata-bata kepercayaan yang sempat runtuh. Hanya melalui kesabaran dan pengertian yang tulus, Berlian akhirnya luluh dan kembali membelah angin dengan larinya.
Kejadian hari ini menyentil sanubariku. Jika membangun kepercayaan dengan hewan saja memerlukan ketulusan yang sedalam itu, apalagi dengan sesama manusia?
Dan yahhhh, kepercayaan bukanlah sesuatu yang di berikan secara cuma-cuma; ia adalah benang halus yang harus di tenun dengan penuh perasaan dan konsistensi. karena tanpa rasa percaya, kita hanyalah dua raga yang bergerak tanpa arah, namum dengan rasa percaya, kita adalah satu jiwa yang mampu melompati rintangan tersulit sekalipun. Hehehehe, sebuah refleksi pagi dari balik pelana.
