UhOMKXUYwpG1raAeL8tAg37tdmCMnUA1ZTakmOEs
Menyiapkan...

    Ramai tapi kosong

    Ramai tapi kosong.

    Ada hari-hari ketika aku berdiri di tengah dunia yang riuh, dikelilingi suara tawa dan wajah-wajah yang kukenal baik. Namun jauh di dalam, ada sesuatu yang tetap diam, seperti rumah bercahaya terang di luar, tapi setiap ruangnya sunyi dan tak berpenghuni.

    Aku tetap tertawa, tetap menyapa, tetap menjadi bagian dari keramaian itu. Tapi ada jarak tipis yang tak pernah bisa kuceritakan pada siapa pun, antara wajah yang mereka lihat dan hati yang sesungguhnya kurasakan. Ramai di luar, sunyi yang menetap di dalam. Barangkali begitulah cara paling jujur untuk menggambarkan hari-hari belakangan ini.

    Bukan berarti aku tak bersyukur atas semua yang kumiliki. Bukan pula karena orang-orang di sekelilingku tak berarti. Hanya saja, riuhnya dunia luar tak selalu sanggup mengisi ruang yang kosong di dalam diri. Dan aku belajar, mengakui itu bukanlah kelemahan, walau sering sulit dijelaskan dengan kata-kata sederhana.

    Aku mulai memahami, tidak semua yang tampak semarak berarti bahagia, dan tidak semua yang bungkam berarti baik-baik saja. Terkadang, keramaian justru menjadi tempat paling aman untuk menyembunyikan kesunyian yang sesungguhnya sedang kupikul sendiri.

    Maka untuk malam ini, biarkan aku duduk sejenak bersama rasa ini, tanpa tergesa mencari alasan, tanpa terburu mencari jawaban. Cukup kuakui, hari ini aku ramai, namun kosong. Dan esok, kuharap ada cahaya kecil yang perlahan menemukan jalan untuk mengisi ruang yang sempat hampa itu.

    — untuk siapa pun yang sedang merasakan hal yang sama

    Posting Komentar