Mencintai yang Terjadi
Ada satu titik dalam hidup ketika kita berhenti bertanya mengapa, dan mulai bertanya apa selanjutnya. Bukan karena pertanyaan pertama tidak penting, tapi karena ia tidak pernah benar-benar punya jawaban yang bisa menenangkan. Aku belajar bahwa sebagian besar luka bukan datang dari apa yang terjadi, melainkan dari betapa lama aku menahan diri untuk tidak merelakannya.
Ada yang menyebutnya nasib, ada yang menyebutnya takdir, ada yang menyebutnya sekadar jalan yang kebetulan berkelok ke arah yang tak kuduga. Apapun namanya, aku mulai memahami bahwa memeluknya jauh lebih ringan daripada terus-menerus menyeretnya sambil berharap ia berbentuk lain.
Rintangan yang dulu kuanggap penghalang, ternyata adalah bagian dari jalan itu sendiri. Ia tidak berdiri di depan pintu untuk menghentikanku ia adalah pintunya. Setiap kali aku berhenti melawan bentuknya dan mulai berjalan mengikuti lekuknya, aku menemukan bahwa aku belum pernah benar-benar tersesat. Aku hanya sedang diarahkan dengan cara yang belum kupahami.
Mungkin inilah yang orang-orang bijak maksud ketika mereka berbicara tentang mencintai apa yang terjadi. Bukan berpura-pura bahagia atas luka, bukan pula membungkam rasa sakit dengan kata-kata manis. Melainkan berhenti bertengkar dengan kenyataan yang sudah tertulis, agar tangan ini punya cukup ruang untuk menulis bab berikutnya.
Dan setiap kali aku berhasil melepaskan sedikit lebih banyak dari yang kemarin, aku merasa bukan kehilangan yang bertambah — melainkan ruang. Ruang untuk berdiri lebih tegak, ruang untuk mencintai apa yang masih tersisa, ruang untuk berjalan tanpa beban yang sebenarnya tak pernah menjadi milikku untuk dibawa.
Rintangan pada tindakan memajukan tindakan. Yang menghalangi jalan menjadi jalan itu sendiri.