Sinar matahari pagi itu masih tampak malu-malu menyapa, tapi tekadku sudah bulat untuk memulai hari Minggu dengan berkuda. Sebelum meluncur ke arena, ada rutinitas yang pantang dilewatkan yaitu mampir ke pasar. Misinya dua, memborong wortel segar untuk kuda-kuda di sana, dan tentu saja, membeli kue pukis cokelat kesukaanku sebagai amunisi energi.
Sesampainya di tempat latihan, aroma tanah dan udara pagi seolah menjadi terapi tersendiri. Aku mulai bersiap, mengencangkan helm dan memakai sepatu berkuda dengan perasaan yang jujur saja... sedikit campur aduk. Beberapa hari belakangan, isi kepala dan hatiku rasanya sedang sangat kacau. Sambil merapikan perlengkapan, aku sempat bergumam pelan dan tertawa miris, "Sepertinya, jatuh dari kuda jauh lebih mending daripada jatuh dari kenyataan, deh!" 😂
Hari ini, partner-ku adalah Berlian, seekor kuda betina dengan postur besar dan perawakan yang sangat gagah. Saat akhirnya aku menungganginya, ada rasa tenang yang anehnya langsung mengalir. Kami memulai sesi pemanasan dengan melakukan trot seperti biasa, menyusuri arena sambil mencoba menyelaraskan ritme antara aku dan Berlian.
Lalu, tibalah momen pembuktian itu. Pelatih mengarahkan kami untuk bersiap melakukan canter. Jujur, untuk seseorang yang sedang merasa lemah dan minim keyakinan diri sepertiku, instruksi itu terasa berat. Namun, saat kami mencapai ujung lapangan, suara pelatih terdengar lantang memecah fokus dan keraguanku, "Kasih whipp! Canter!"
Satu tarikan napas, satu dorongan keberanian, dan... yahhh! Aku berhasil melakukannya! Kami melesat dalam ritme canter yang diidam-idamkan. Di atas pelana Berlian, semua keraguan dan rasa lemahku seolah menguap begitu saja terbawa angin.
Aku selalu percaya bahwa kuda memiliki insting dan kepekaan yang luar biasa. Mereka bisa merasakan emosi penunggangnya. Pagi itu, aku yakin Berlian tahu bahwa penunggangnya ini sedang sangat butuh pelampiasan dan hiburan. Lewat setiap langkah dan lariannya, ia menghiburku. Ia membantuku menaklukkan ketakutan dan mencapai target canter yang sangat kuharapkan di hari Minggu ini.
Dengan napas terengah namun hati yang luar biasa lega, aku berteriak dari atas kuda, "Terima kasiiih!" kepada pelatihku. Dari kejauhan, aku bisa melihatnya tersenyum. Mungkin, selain bangga melihat keberhasilanku memecah keraguan, ia juga merasa terhibur setelah menampung beberapa cerita dan keluh kesah konyolku sebelum latihan tadi.
Minggu pagi ini akhirnya ditutup dengan manis. Bukan hanya karena pukis rasa cokelat yang lumer di mulut, tapi karena Berlian mengajariku satu hal, saat keadaan rasanya sedang kacau, terkadang yang kamu butuhkan hanyalah keberanian untuk berlari sedikit lebih cepat, dan membiarkan angin membawa pergi kekhawatiranmu.