Gerimis Rahmat di Balik Duka
Di hamparan fana bernama dunia, air mata acap kali menjadi bahasa yang paling jujur. Kesusahan menyapa bak angin kemarau yang menggugurkan dedaunan, dan duka hadir sebagai malam yang merampas benderang. Namun, wahai jiwa yang tengah memeluk sepi, cobalah menyingkap tabir di balik getirmu.
Ketahuilah, rintih dan lara bukanlah cambuk sebuah kemurkaan. Ia adalah gerimis rahmat yang diutus dari ranah sunyi yang tak teraba.
Setiap isak yang memecah hening sejatinya adalah cara Yang Maha Pengampun membasuh debu-debu khilaf di palung hatimu. Dalam setiap ujian yang menyempitkan dada, Ia gugurkan dosa-dosa yang selama ini memberatkan langkah. Ia patahkan ranting kesombongan kita melalui ketakberdayaan, semata-mata agar kita kembali menengadah—bersimpuh menyadari kelalaian, dan merengkuh kembali kasih-Nya yang sempat terlupa.
Maka, dekaplah kesusahan itu sebagai sebuah perjamuan suci.
Biarkan duka menjadi pelita yang meleburkan egomu.
Biarkan air mata menjadi telaga yang menyucikan batinmu.
Sebab pada ujung kefanaan ini, kepahitan dunia hanyalah kepingan mozaik cinta. Ia adalah cara Sang Khalik memanggilmu pulang, menuntunmu melewati badai, menuju dermaga ampunan-Nya yang tak bertepi.